Customize Consent Preferences

We use cookies to help you navigate efficiently and perform certain functions. You will find detailed information about all cookies under each consent category below.

The cookies that are categorized as "Necessary" are stored on your browser as they are essential for enabling the basic functionalities of the site. ... 

Always Active

Necessary cookies are required to enable the basic features of this site, such as providing secure log-in or adjusting your consent preferences. These cookies do not store any personally identifiable data.

No cookies to display.

Functional cookies help perform certain functionalities like sharing the content of the website on social media platforms, collecting feedback, and other third-party features.

No cookies to display.

Analytical cookies are used to understand how visitors interact with the website. These cookies help provide information on metrics such as the number of visitors, bounce rate, traffic source, etc.

No cookies to display.

Performance cookies are used to understand and analyze the key performance indexes of the website which helps in delivering a better user experience for the visitors.

No cookies to display.

Advertisement cookies are used to provide visitors with customized advertisements based on the pages you visited previously and to analyze the effectiveness of the ad campaigns.

No cookies to display.

Gereja Setan: Ajaran Sesat yang Menyesatkan Masyarakat


Gereja Setan: Ajaran Sesat yang Menyesatkan Masyarakat

Gereja Setan, atau yang lebih dikenal dengan Gereja Satanis, merupakan sebuah agama yang sangat kontroversial. Terlepas dari pandangan yang berbeda-beda mengenai agama ini, ada beberapa fakta yang harus diketahui tentang Gereja Setan.

Pertama-tama, Gereja Setan bukanlah agama yang baru. Gereja ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1966. Pendirinya adalah Anton LaVey, seorang mantan sirkus dan organ tunggal pemain. LaVey mengaku sebagai pendeta dan mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan agama-agama besar seperti Kristen, Islam, dan Yahudi.

Ajaran-ajaran Gereja Setan sangat kontroversial dan menyesatkan. Salah satu ajarannya yang paling terkenal adalah “Do what thou wilt shall be the whole of the Law” yang berarti bahwa setiap orang bebas melakukan apa pun yang diinginkannya tanpa ada batasan moral atau etika. Ajaran ini kontras dengan ajaran agama-agama besar yang mengajarkan untuk bertindak dengan moral dan etika yang baik.

Namun, banyak orang yang masih penasaran dengan ajaran-ajaran Gereja Setan. Beberapa alasan yang sering diutarakan adalah ingin mencari kebebasan dalam hidup dan ingin mempertanyakan kebenaran dari agama-agama besar yang sudah ada.

Kendati demikian, Gereja Setan telah dianggap sebagai ajaran sesat yang menyesatkan masyarakat. Banyak ahli agama dan psikolog yang mengecam praktik-praktik Gereja Setan. Mereka menganggap bahwa Gereja Setan dapat memicu perilaku kekerasan dan kejahatan.

Menurut Ustaz Arifin Ilham, seorang ulama dan pendakwah Islam, “Gereja Setan merupakan ajaran yang sangat merugikan. Ajaran-ajaran yang dianut oleh Gereja Setan bertentangan dengan ajaran agama-agama besar dan dapat memicu perilaku kekerasan dan kejahatan.”

Sementara itu, Dr. Fransisca Ani Herawati, seorang psikolog, mengatakan bahwa “Gereja Setan dapat memicu perilaku kekerasan dan kejahatan karena ajarannya yang menekankan pada kebebasan tanpa ada batasan moral atau etika.”

Dalam pandangan agama-agama besar, Gereja Setan dianggap sebagai ajaran sesat yang harus dihindari. Oleh karena itu, sebaiknya kita sebagai masyarakat tidak terpengaruh dan menolak ajaran-ajaran Gereja Setan. Sebagai gantinya, kita sebaiknya mengikuti ajaran agama-agama besar yang mengajarkan untuk bertindak dengan moral dan etika yang baik dalam kehidupan sehari-hari.